Tangki Septik dengan Filter Anaerobik

Menurut data Badan Pusat Statistik, dari tahun 2010-2016 laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,36%. Laju pertumbuhan penduduk di Indonesia yang terus meningkat, dapat menimbulkan resiko pencemaran lingkungan oleh air limbah domestik jika tidak diolah terlebih dahulu. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia membuat target 100% akses air dan sanitasi pada tahun 2019. Namun pembangunan fasilitas sanitasi seharusnya tidak terfokus hanya pada akses sanitasi seperti jamban yang layak, tetapi pengolahan air limbah tersebut juga harus diperhatikan. Sebesar 76% penduduk kota di Indonesia telah memiliki jamban, namun hanya 5% fasilitas sanitasi yang mengolah air limbah sebelum dibuang ke lingkungan.

Data dari World Bank, lebih dari 90% penduduk Indonesia menggunakan sistem sanitasi setempat untuk mengolah air limbah domestik. Namun, pengelolaan air limbah domestik dengan sistem setempat memiliki kendala dengan banyaknya tangki septik yang belum memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia) 03-2398-2002. Beberapa faktor yang menyebabkan banyak tangki septik yang belum memenuhi SNI dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat serta keterbatasan lahan di daerah perkotaan. Oleh karena itu perlu sosialisasi terhadap kriteria tangki septik yang benar menurut SNI, dan teknologi yang tepat guna untuk daerah pemukiman padat penduduk.

Kriteria tangki septik menurut SNI yang menyebabkan besarnya kebutuhan lahan adalah sistem resapan setelah pengolahan pada tangki septik. Sistem peresapan ini minimal harus berjarak 10 meter dari sumber air bersih secara horizontal. Oleh karena itu, perlu teknologi tambahan pada tangki septik agar effluent tidak beresiko mencemari lingkungan meskipun tanpa sistem peresapan. Salah satu teknologi yang cocok digunakan di lokasi dengan tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi adalah tangki septik dengan filter anaerobik.

Tangki septik dengan anerobik filter merupakan tangki septik dengan lebih dari satu kompartemen dengan fungsi kompartemen pertama untuk pengendapan dan kompartemen selanjutnya dipasangi filter. Filter ini dapat terbuat dari bahan alami dan mudah didapat seperti kerikil, sisa arang, bambu, batok kelapa, atau plastik yang dibentuk khusus. Bakteri aktif ditambahkan untuk memicu proses penurunan konsentrasi bahan pencemar. Selanjutnya, bakteri aktif didapat dari lumpur tinja yang mengalir ke media filter, kemudian materi organik akan diuraikan oleh biomassa yang menempel pada materi filter tersebut. Teknologi filter anaerobik ini memiliki efisiensi penyisihan substrat lebih dari 90% (C. Russo, et al), sehingga effluent dari tangki septik sangat memungkinkan untuk dialirkan langsung ke lingkungan.

Aliran pada tangki septik filter anaerobik ini berupa aliran ke atas (upflow filter), dengan membuat influent ada di bagian bawah kompartemen filter. Sistem aliran ke atas dapat membuat waktu kontak dengan media filter lebih lama, sehingga air limbah akan terolah dengan baik. Sementara itu kriteria perencanaan filter anaerobik adalah sebagai berikut (Bintek, 2011):
a)       Media yang digunakan berukuran 2-6 cm dan bersifat porous dengan specific gravity mendekati 1 (satu).
b)      Kedalaman filter 100-120 cm.
c)       Waktu detensi > 1 (satu) hari.
d)      Angka pori berkisar antara 40-60 %

Tangki septik filter anaerobik ini dapat terbuat dari material beton atau fiberglass, dan bentuknya bisa segi empat atau bulat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Jika tangki septik filter anaerobik ini akan dibangun dibawah jalan yang dilalui beban berat seperti kendaraan bermotor, maka dapat dibuat dari beton sehingga umur pemakaian panjang. Contoh unit tangki septik filter anaerobik dengan berbagai bentuk dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2 berikut.

Gambar 1. Tangki septik dengan filter anaerobik berbentuk segiempat.

Gambar 2. Tangki septik dengan filter anaerobik berbentuk bulat.

Pengoperasian dan pemeliharaan tangki septik filter anaerobik ini juga cukup mudah. Pengoperasian dimulai dari mengisi air pada tangki septik, setelah itu tangki septik dapat digunakan. Untuk mempercepat proses pembentukan bakteri pengurai di tangki septik, maka dapat ditambahkan bakteri pengurai seperti IM4, startbio, bio2000, dan lain sebagainya. Lalu pemeliharaan tangki septik filter anaerobik ini dapat dilakukan dengan pembersihan filter dari padatan dan biomassa yang menebal dan bisa menyumbat pori-pori filter. Filter bisa dibersihkan dengan mengalirkan air dengan arah berlawanan aliran, atau melepas media filter dari tangki kemudian dibersihkan. Sebagai pertimbangan, pada Tabel 1. dapat dilihat kelebihan dan kekurangan dari tangki septik filter anaerobik.

Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan tangki septik dengan filter anaerobik.
Tangki septik dengan filter anaerobik
Kelebihan
Kekurangan
Tidak menimbulkan bau dan lalat
Memerlukan sumber air yang konstan
Luas lahan yang digunakan tidak banyak
Tidak boleh terkena banjir, sehingga permukaan bangunan/lubang pemeriksaan harus diatas muka banjir
Pengelolaan cukup mudah
Influent tidak boleh terkontaminasi oleh bahan kimia, karena dapat membunuh bakteri di tangki septik
Biaya investasi dan operasi cukup rendah
Membutuhkan start up yang relatif lama jika tidak menggunakan bantuan bakteri pengurai
Dibandingkan proses lumpur aktif , lumpur yang dihasilkan lebih sedikit

Tidak perlu energi listrik

Material dapat mudah ditemukan



Referensi

Arianto Eri, dkk. “ Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Setempat Tangki Septik dengan Upflow Filter”. 2016. Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH): Jakarta.

Bimbingan Teknis Perencanaan Pengolahan Setempat. 2011. Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Badan Pusat Statistik. “Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi”. https://www.bps.go.id/statictable/2009/02/20/1268/laju-pertumbuhan-penduduk-menurut-provinsi.html. (diakses 08 Agustus 2018).

C. Russo, et al. “An Anaerobic filter Applied to The Treatment of Distillery Wastewaters”.2006. Chemical Engineering Programme, COPPE/UFRJ, PO Box 68502, Rio de Janeiro, Brazil.

SNI 03-2398-2002. Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem Resapan.

Soedjono. E.S, dkk. “Buku Referensi Opsi Sistem dan Teknologi Sanitasi”. 2010. Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS).

World Bank Group. “Memenuhi Kebutuhan Sanitasi Perkotaan di Indonesia”. http://www.worldbank.org/in/news/feature/2017/03/21/meeting-indonesia-urban-sanitation-needs. (diakses 08 Agustus 2018).

Comments

Popular posts from this blog